Jakarta, Balienews.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap sejumlah menu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan pada anak sekolah, seperti mual, muntah, hingga diare. Temuan ini disampaikan oleh Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, berdasarkan hasil evaluasi tim investigasi pemantauan dan pengawasan yang dilakukan pada Senin (20/4) di Jakarta.
Menurut Nanik, gangguan kesehatan tersebut muncul akibat faktor pengolahan, penyajian, hingga kualitas bahan makanan yang belum optimal dalam program MBG.
Soto Jadi Sorotan, Berisiko Kontaminasi Bakteri
Salah satu menu yang paling sering memicu gangguan pencernaan adalah soto. Nanik menjelaskan, penggunaan kondimen mentah seperti kol, seledri, dan tauge menjadi faktor utama risiko.
Selain itu, penyajian kuah yang sudah dingin dan disiramkan ke bahan mentah dapat meningkatkan potensi kontaminasi bakteri seperti Escherichia coli (E. coli). Kondisi ini berisiko tinggi terutama bagi anak dengan daya tahan tubuh rendah.
Nasi dan Mi Mudah Basi Picu Masalah Pencernaan
BGN juga menyoroti beberapa jenis makanan lain yang mudah basi, seperti nasi kuning, nasi uduk, dan nasi goreng. Jika tidak ditangani dengan baik, makanan tersebut berpotensi menyebabkan sakit perut.
Selain itu, berbagai olahan mi, khususnya mi goreng yang dimasak bersama sayuran, juga rentan memicu gangguan pencernaan apabila proses pengolahannya kurang higienis.
Ayam Suwir dan Saus Tingkatkan Risiko Keracunan
Menu ayam suwir disebut sebagai salah satu penyebab tertinggi kasus keracunan makanan dalam program MBG. Hal ini dipicu oleh penggunaan ayam yang kurang segar serta proses penyuwiran yang tidak higienis, seperti tanpa sarung tangan.
Tak hanya itu, makanan berbahan saus juga dinilai berisiko jika dimasak kurang matang dan dikonsumsi dalam waktu lebih dari 12 jam setelah pengolahan.
Teknik Memasak Tidak Tepat Jadi Penyebab
Menu seperti ayam bakar dan ikan barbeque juga masuk dalam daftar perhatian. BGN menemukan bahwa proses memasak menggunakan alat torch, bukan oven besar, membuat tingkat kematangan tidak merata hingga ke bagian dalam daging.
Akibatnya, makanan berpotensi masih mentah di bagian dalam dan memicu gangguan kesehatan seperti mual dan muntah.
BGN Evaluasi Menu MBG, Prioritaskan Keamanan Pangan
Sebagai langkah antisipasi, BGN untuk sementara tidak merekomendasikan menu-menu tersebut dalam program MBG. Kebijakan ini berlaku hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki tenaga juru masak yang kompeten dan memahami standar keamanan pangan.
BGN menegaskan pentingnya kualitas pengolahan makanan demi memastikan program MBG benar-benar memberikan manfaat kesehatan bagi anak-anak. (BEM)




