Badung, Balienews.com – Puluhan warga dari berbagai kalangan mengikuti edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan kearifan lokal di Gradasi Center, Longstorage Tukad Mati, Kuta, Kabupaten Badung, Kamis (30/4). Kegiatan ini bertujuan mendorong terciptanya ekonomi sirkular berkelanjutan melalui partisipasi aktif masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya.
Program ini merupakan bagian dari Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (Gradasi) yang diinisiasi Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), didukung UNDP Indonesia, serta melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat adat Bali.
Dorong Target Nasional Pengelolaan Sampah
Kepala Bagian Tata Usaha Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Bali Nusra, Awang Erry Sofyar Irawan, menegaskan bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat menjadi langkah konkret dalam mendukung target nasional.
Pemerintah menargetkan pengelolaan sampah mencapai 51,2 persen pada 2025, meningkat menjadi 63,4 persen di 2026, dan mencapai 100 persen pada 2029.
Menurutnya, target tersebut bukan sekadar angka, melainkan komitmen untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir di seluruh daerah.
Tantangan Pengelolaan Sampah Masih Kompleks
Ia mengungkapkan sejumlah tantangan yang masih dihadapi, mulai dari perencanaan yang belum optimal, rendahnya partisipasi pemangku kepentingan, keterbatasan pendanaan, hingga belum meratanya layanan pengolahan sampah.
Selain itu, kelembagaan pengelolaan sampah dinilai masih perlu diperkuat agar mampu menjawab kompleksitas persoalan yang terus meningkat.
Perubahan Perilaku Jadi Kunci
Sekretaris Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) Bali, Putu Ayu Puryani, menekankan bahwa persoalan sampah di Bali semakin serius, terutama di kawasan perkotaan dan destinasi wisata.
Ia menilai pendekatan teknis saja tidak cukup. Diperlukan perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi lingkungan, disiplin, serta pembentukan budaya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Kolaborasi Jadi Faktor Penentu
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah membutuhkan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, daerah, akademisi, komunitas, hingga masyarakat.
Ia berharap komunitas Sekhe Resik Bali dapat menjadi motor penggerak perubahan dengan mendorong kebiasaan memilah sampah dari rumah, mengolah sampah organik menjadi kompos, serta menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.
Dukung Target Penutupan TPA Suwung 2026
Wakil Ketua Sekhe Resik Bali, Siti Rosidah, menyebut inisiatif ini sejalan dengan target Pemerintah Provinsi Bali untuk menutup total TPA Suwung pada 1 Agustus 2026.
Pendekatan berbasis komunitas dan nilai lokal dinilai penting karena sebagian besar sampah laut berasal dari aktivitas darat, khususnya rumah tangga.
Majelis Desa Adat Bali juga mendorong gerakan “Sekhe Resik” yang menempatkan desa adat sebagai aktor utama dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Pelatihan dan Fasilitas Pengelolaan Sampah
Dalam kegiatan tersebut, dilakukan penyerahan fasilitas berupa tong komposter sebagai drop point sampah organik serta perlengkapan kerja bagi petugas kebersihan.
Peserta juga mendapatkan edukasi pemilahan sampah dari sumber serta pelatihan teknis langsung di lapangan bersama komunitas Sekhe Resik.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan.
Ajak Masyarakat Mulai dari Rumah
Program ini mengajak masyarakat untuk memulai pengelolaan sampah dari langkah sederhana, seperti memilah sampah rumah tangga dan mengurangi sampah organik.
Partisipasi aktif masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan bersih sekaligus mendukung ekonomi sirkular di Bali. (BEM)




