BerandaBeritaDaerahPuluhan Babi Mati Mendadak di Payangan, Diduga Terpapar ASF

Puluhan Babi Mati Mendadak di Payangan, Diduga Terpapar ASF

Gianyar, Balienews.com – Wabah penyakit babi kembali menghantui peternak di Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali. Puluhan ekor babi milik warga dilaporkan mati mendadak dalam beberapa hari terakhir dengan gejala yang mengarah pada virus African Swine Fever (ASF) atau flu babi Afrika. Kasus ini terjadi di sejumlah banjar dan menimbulkan keresahan di kalangan peternak karena kerugian yang ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

Salah satu peternak terdampak adalah I Wayan Sudiantara, Kelian Banjar Susut, Desa Buahan, Kecamatan Payangan. Pada Jumat (22/5/2026), ia mengaku seluruh ternak babinya mati dalam waktu singkat, mulai dari anakan babi hingga indukan.

“Habis pak babi saya, babi umur 50 hari sekitar 17 ekor, babi indukan 9 ekor, semua mati,” ujar Sudiantara dengan nada sedih.

Puluhan Ekor Babi Mati, Peternak Rugi Besar

Kematian massal babi tersebut membuat para peternak mengalami kerugian besar. Untuk mencegah penyebaran penyakit ke kandang lain maupun lingkungan sekitar, bangkai ternak langsung dimusnahkan dengan cara dibakar.

Sudiantara menyebut langkah itu dilakukan sebagai upaya darurat sambil menunggu kepastian hasil pemeriksaan laboratorium terkait penyebab kematian ternak.

“Semua yang mati sudah saya bakar. Semoga pihak terkait lakukan riset terkait virus babi, apakah ASF atau virus lain,” katanya.

Ia memperkirakan kerugian akibat wabah penyakit babi di Gianyar itu mencapai puluhan juta rupiah. Kondisi serupa juga dialami sedikitnya lima peternak lain di Banjar Susut dan beberapa wilayah lain di Kecamatan Payangan.

Gejala Babi Sebelum Mati Diduga ASF

Menurut para peternak, babi yang terserang penyakit menunjukkan gejala yang hampir sama. Hewan ternak mengalami demam tinggi, kehilangan nafsu makan, sesak napas, lalu mati dalam waktu sekitar tiga hari.

“Gejalanya berlangsung selama tiga hari sebelum mati. Diawali suhu badan panas, tidak mau makan, lalu sesak napas,” ungkap Sudiantara.

Kemunculan gejala serupa di sejumlah kandang memperkuat dugaan adanya penyebaran virus ASF yang sebelumnya juga sempat menyerang peternakan babi di Bali.

Dinas Pertanian Gianyar Sebut Hasil Lab Suspect ASF

Pemerintah Kabupaten Gianyar melalui Dinas Pertanian dan Peternakan mulai melakukan penanganan terhadap kasus kematian babi tersebut. Pelaksana Tugas Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Gianyar, I Made Dwitemaja, mengatakan pihaknya memang menerima laporan kasus serupa dari beberapa banjar di Payangan.

Menurutnya, sejumlah sampel bangkai babi sudah diuji di laboratorium kesehatan hewan dan hasil sementara menunjukkan indikasi suspect ASF.

“Kematian babi di Susut belum kami terima, tetapi di banjar lain sudah ada yang diuji laboratorium dan memang ada yang mati karena suspect ASF,” jelas Dwitemaja, Jumat (22/5/2026).

Ia menegaskan penanganan wabah ASF di Bali memerlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah agar penyebaran virus bisa ditekan.

Peternak Diminta Perketat Biosekuriti Kandang

Dinas Pertanian dan Peternakan Gianyar juga meminta seluruh peternak memperketat biosekuriti kandang sebagai langkah utama mencegah penularan virus ASF.

Meski kebersihan kandang dinilai sudah cukup baik, pihak dinas menduga penyebaran virus terjadi melalui aktivitas manusia saat membeli pakan ternak.

“Peternak di Gianyar sebenarnya sudah disiplin menjaga kebersihan kandang. Namun diduga virus menempel saat membeli pakan, lalu terbawa ke kandang karena tidak mengganti pakaian atau membersihkan diri,” kata Dwitemaja.

Peternak kini diimbau untuk selalu mencuci tangan, kaki, menggunakan disinfektan, dan mengganti pakaian sebelum masuk ke area kandang guna memutus rantai penyebaran virus babi ASF.

Kekhawatiran Peternak Meningkat

Kasus babi mati mendadak di Gianyar menambah kekhawatiran para peternak yang masih berusaha bangkit setelah wabah ASF beberapa tahun terakhir. Mereka berharap pemerintah segera melakukan investigasi menyeluruh dan memberikan solusi agar masyarakat tidak takut kembali beternak babi.

Selain pengawasan lalu lintas ternak dan pakan, edukasi mengenai biosekuriti dinilai menjadi langkah penting untuk menekan penyebaran penyakit babi di Bali. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI