Denpasar, Balienews.com – Danantara Indonesia resmi memulai pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Desa Pedungan, Denpasar, Rabu (8/7). Proyek senilai Rp3 triliun ini ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2028 dengan kapasitas mengolah 1.500 ton sampah per hari menggunakan teknologi yang telah teruji di lebih dari 50 negara.
Groundbreaking tersebut menjadi proyek perdana dalam program Waste-to-Energy Danantara Indonesia. PSEL Bali dibangun sebagai bagian dari upaya pemerintah mendukung percepatan penanganan sampah nasional sekaligus menghasilkan energi bersih tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Teknologi PSEL Bali Diklaim Sudah Teruji
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan pembangunan PSEL Bali merupakan tonggak penting dalam pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia.
Menurutnya, proyek ini merupakan respons terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto agar persoalan sampah dapat diselesaikan secara cepat dan berkelanjutan.
Rosan menjelaskan, Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) bersama PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) telah memilih teknologi yang telah terbukti berhasil diterapkan di lebih dari 50 negara.
Ia mengungkapkan telah melihat langsung implementasi teknologi tersebut di China dan Jepang. Menurutnya, fasilitas PSEL di kedua negara mampu mengolah sampah tanpa menimbulkan bau sehingga dapat berdiri berdampingan dengan kawasan permukiman, bahkan dilengkapi taman baca dan ruang rekreasi bagi masyarakat.
“Teknologi ini mampu mengolah sampah baru maupun sampah lama secara bersih dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Target Operasi Awal 2028
CEO PT Danantara Investment Management (DIM), Pandu Patria Sjahrir, mengatakan seluruh proses pengembangan proyek dilakukan secara profesional dengan mempertimbangkan aspek teknis, operasional, hukum, finansial, hingga lingkungan sejak tahap pemilihan mitra.
PSEL Bali dibangun di Desa Pedungan karena menjadi kawasan aglomerasi Denpasar dan Badung yang menghasilkan volume sampah cukup besar. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2028 dengan kapasitas pengolahan mencapai 1.500 ton sampah setiap hari.
Mampu Olah 40 Persen Sampah Bali
Pandu menjelaskan PSEL Bali dirancang mengacu pada standar lingkungan European Industrial Emissions Directive (EU IED) sehingga memenuhi standar emisi yang ketat.
Saat beroperasi nanti, proyek ini diperkirakan mampu mengelola lebih dari 500.000 ton sampah setiap tahun atau lebih dari 40 persen total timbulan sampah di Bali.
Selain mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA), fasilitas ini juga diproyeksikan menekan emisi dari TPA hingga 80 persen dan mengurangi emisi karbon sekitar 640.000 ton CO2 per tahun.
Pasok Listrik untuk 100 Ribu Rumah
Tak hanya menyelesaikan persoalan sampah, PSEL Bali juga diharapkan menjadi sumber energi hijau baru bagi Pulau Dewata.
Menurut Pandu, energi listrik yang dihasilkan nantinya diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan sekitar 100.000 rumah tangga di Bali.
Proyek investasi senilai Rp3 triliun tersebut juga diproyeksikan menciptakan sekitar 1.200 lapangan kerja hijau serta mengurangi kebutuhan lahan tempat pemrosesan akhir hingga sekitar 80 persen.
Keberadaan PSEL Bali diharapkan menjadi model pengelolaan sampah modern yang ramah lingkungan sekaligus mendukung transisi energi bersih di Indonesia. (BEM)



