Tabanan, Balienews.com – Ada perubahan kecil yang terkadang luput dari perhatian orang tua. Anak yang dahulu selalu antusias menceritakan pengalaman di sekolah, teman-temannya, hingga hal-hal sederhana yang dialaminya, perlahan mulai lebih banyak diam.
Ketika ditanya bagaimana harinya, jawabannya hanya, “Biasa saja,” atau “Enggak ada.” Percakapan yang dahulu terasa hangat kini berubah menjadi tanya jawab singkat.
Situasi ini bisa terjadi seiring anak bertambah besar. Namun, ketika anak semakin jarang berbagi cerita, orang tua perlu melihat lebih jauh bagaimana pola komunikasi yang selama ini terbangun di rumah.
Sebab, anak tidak selalu berhenti bercerita karena ingin menjauh dari orang tua. Bisa jadi, mereka mulai merasa bahwa tidak semua cerita akan diterima dengan baik.
Dikutip dari Times of India, kebiasaan orang tua dalam merespons cerita, kesalahan, dan perasaan anak dapat memengaruhi keterbukaan mereka. Jarak emosional tersebut bisa terbentuk secara perlahan melalui interaksi sehari-hari.
Lantas, kebiasaan apa saja yang tanpa disadari dapat membuat anak semakin tertutup?
1. Membesar-besarkan Setiap Kesalahan Anak
Anak sedang berada dalam proses belajar. Karena itu, melakukan kesalahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tumbuh kembang mereka.
Mulai dari lupa mengerjakan tugas, kehilangan barang, berbohong tentang hal kecil, hingga mengambil keputusan yang kurang tepat. Semua itu bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar bertanggung jawab.
Namun, respons orang tua sangat menentukan bagaimana anak memandang kesalahan tersebut.
Jika setiap kesalahan selalu disambut dengan amarah, bentakan, ceramah panjang, atau hukuman yang berlebihan, anak bisa menganggap kejujuran sebagai sesuatu yang berisiko.
Mereka mungkin tetap membutuhkan bantuan orang tua, tetapi memilih menyembunyikan masalah karena takut mendapatkan reaksi negatif.
Alih-alih langsung memarahi, orang tua dapat mengajak anak membicarakan apa yang terjadi, memahami penyebabnya, kemudian mencari cara memperbaiki kesalahan tersebut.
Dengan begitu, anak belajar bahwa mengakui kesalahan bukan berarti harus kehilangan rasa aman.
2. Menganggap Remeh Perasaan Anak
Kalimat seperti “Begitu saja menangis?”, “Jangan lebay,” atau “Itu bukan masalah besar” mungkin terdengar biasa bagi orang dewasa.
Namun, bagi anak yang masih belajar mengenali emosinya, respons tersebut bisa membuat perasaan mereka seolah tidak penting.
Padahal, sesuatu yang terlihat sederhana bagi orang tua belum tentu terasa ringan bagi anak. Perselisihan dengan teman, kegagalan dalam permainan, atau teguran guru bisa menjadi pengalaman emosional yang cukup berat bagi mereka.
Harvard Center on the Developing Child menjelaskan konsep serve and return, yaitu interaksi dua arah ketika anak menunjukkan kebutuhan, ketertarikan, atau emosi, kemudian orang dewasa merespons secara tepat dan penuh perhatian.
Interaksi responsif seperti ini membantu membangun fondasi perkembangan otak serta kemampuan sosial dan emosional anak.
Karena itu, ketika anak sedang sedih atau kecewa, orang tua tidak harus selalu buru-buru memberikan solusi. Terkadang, kalimat sederhana seperti “Kamu pasti kecewa, ya?” sudah menjadi awal yang baik untuk membuat anak merasa dipahami.
3. Terlalu Sering Membandingkan dengan Anak Lain
“Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?”
“Coba lihat temanmu, dia bisa mendapatkan nilai lebih bagus.”
Kalimat perbandingan seperti ini terkadang disampaikan dengan maksud memotivasi. Namun, jika terus diulang, anak bisa merasa bahwa dirinya tidak pernah cukup baik.
Setiap anak memiliki kemampuan, kecepatan belajar, karakter, dan kebutuhan yang berbeda. Membandingkan pencapaian mereka secara terus-menerus justru berpotensi membuat anak lebih sibuk memikirkan kekurangannya daripada mengenali perkembangannya sendiri.
Dampaknya juga dapat merembet pada komunikasi keluarga.
Anak mungkin mulai menyaring cerita yang ingin disampaikan karena khawatir pengalaman atau pencapaiannya kembali dibandingkan dengan orang lain.
Sebagai alternatif, orang tua dapat memberikan apresiasi terhadap usaha dan kemajuan anak, tanpa harus menjadikannya lebih baik daripada orang lain.
Perhatian terhadap proses akan membantu anak merasa dihargai sebagai individu.
4. Lebih Sering Marah daripada Mendengarkan
Tidak semua cerita anak harus berakhir dengan teguran. Ada kalanya mereka hanya ingin menceritakan sesuatu yang dialami tanpa mengharapkan penilaian.
Namun, jika setiap cerita yang dianggap bermasalah langsung disambut bentakan, sindiran, atau hukuman, anak bisa kehilangan keinginan untuk berbagi.
Mereka tidak hanya memikirkan persoalan yang sedang dihadapi, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana orang tua akan bereaksi ketika mendengarnya.
Dalam kondisi seperti ini, diam dapat terasa sebagai pilihan yang lebih aman.
Orang tua perlu membiasakan diri mendengarkan cerita anak sampai selesai sebelum memberikan tanggapan. Jika situasinya memancing emosi, mengambil jeda sejenak juga dapat membantu agar respons yang diberikan tidak menyakiti perasaan anak.
Mendengarkan bukan berarti selalu membenarkan perilaku anak. Orang tua tetap dapat memberikan batasan dan teguran, tetapi dengan cara yang tidak merendahkan.
5. Terlalu Cepat Memberikan Ceramah dan Solusi
Ketika anak bercerita tentang masalahnya, naluri orang tua biasanya ingin segera membantu.
Nasihat, arahan, dan solusi langsung diberikan agar persoalan cepat selesai. Niat tersebut tentu baik, tetapi tidak selalu sesuai dengan kebutuhan anak saat itu.
Ada kalanya anak hanya ingin didengarkan, bukan langsung diberi tahu apa yang harus dilakukan.
Jika setiap percakapan berubah menjadi sesi ceramah, anak bisa merasa tidak memiliki ruang untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya sendiri.
Cobalah mengawali percakapan dengan pertanyaan sederhana seperti, “Kamu mau cerita saja dulu atau ingin kita cari solusinya bersama?”
Pertanyaan tersebut memberikan kesempatan kepada anak untuk menentukan bentuk dukungan yang sedang dibutuhkan.
Orang tua juga dapat mengajukan pertanyaan terbuka agar anak lebih leluasa menjelaskan pengalaman dan sudut pandangnya.
6. Menggunakan Cerita Pribadi Anak untuk Menyindir atau Menghakimi
Kepercayaan merupakan salah satu fondasi penting dalam hubungan orang tua dan anak.
Kepercayaan itu tidak hanya dibangun ketika anak membagikan kabar baik, tetapi juga ketika mereka berani menceritakan sesuatu yang memalukan, menakutkan, atau sulit untuk diungkapkan.
Masalah dapat muncul ketika cerita pribadi yang pernah disampaikan anak justru digunakan sebagai bahan ejekan, sindiran, atau senjata saat terjadi pertengkaran.
Anak kemudian bisa merasa bahwa keterbukaan justru membuat dirinya rentan disakiti.
Akibatnya, mereka mulai menyimpan persoalan tertentu dan semakin berhati-hati ketika berbicara dengan orang tua.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk menghargai kepercayaan yang diberikan anak. Jika ada perilaku yang perlu dikoreksi, fokuslah pada perilakunya, bukan menggunakan rahasia atau kelemahan pribadi anak untuk mempermalukannya.
Tentu, menjaga privasi bukan berarti orang tua harus merahasiakan persoalan yang berkaitan dengan keselamatan anak. Jika terdapat risiko kekerasan, perundungan, eksploitasi, atau bahaya lainnya, orang tua tetap perlu mengambil langkah perlindungan yang tepat.
Membangun Kebiasaan Mendengarkan Sejak Dini
Anak yang semakin jarang bercerita bukan berarti hubungan dengan orang tua tidak bisa diperbaiki. Keterbukaan dapat dibangun kembali melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Orang tua bisa memulainya dengan menyediakan waktu khusus untuk berbincang tanpa gangguan telepon genggam, mendengarkan cerita sampai selesai, mengakui perasaan anak, serta menghindari respons yang mempermalukan.
Tidak perlu selalu menunggu anak datang membawa persoalan besar. Percakapan ringan tentang makanan favorit, kegiatan sekolah, permainan, atau hal lucu yang terjadi hari itu dapat menjadi jembatan untuk membangun kedekatan.
Pada akhirnya, rumah idealnya menjadi tempat anak merasa aman untuk bercerita, termasuk ketika mereka melakukan kesalahan.
Sebab, tujuan komunikasi keluarga bukan sekadar membuat anak mau berbicara, melainkan membangun keyakinan bahwa mereka akan didengarkan, dihargai, dan dibantu ketika menghadapi kesulitan.
Sudahkah orang tua menjadi pendengar yang baik bagi anak hari ini? (BEM)
Sumber referensi :
1. Times of India – When a child stops sharing things with parents, it usually begins with these 6 parental habits. Sumber utama enam kebiasaan orang tua.
2. Harvard Center on the Developing Child – Serve and Return: Back-and-forth exchanges. Rujukan ilmiah tentang interaksi responsif dan perkembangan anak.




