back to top
Sabtu, November 29, 2025
- Advertisement -spot_img
BerandaGaya HidupVideo Pendek Dinilai Memperburuk Fokus dan Emosi Remaja

Video Pendek Dinilai Memperburuk Fokus dan Emosi Remaja

Balienews.com – Psikolog dan Ketua Bidang Humas Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Samanta Elsener, menyampaikan bahwa konsumsi video pendek di platform seperti YouTube Shorts dan TikTok pada remaja Indonesia semakin memengaruhi kesehatan mental, terutama fokus dan regulasi emosi.

Hal itu ia sampaikan saat menghadiri acara Beranda Jiwa di kantor Google Indonesia, Jakarta Selatan, pada Kamis (20/11/2025). Menurutnya, dampak tersebut muncul karena otak remaja yang masih berkembang menjadi lebih rentan terhadap paparan konten digital berulang.

Video Pendek Perpendek Fokus dan Tingkatkan Emosi

Samanta menjelaskan bahwa pola konsumsi video berdurasi singkat membuat attention span remaja semakin pendek dan membuat mereka lebih mudah tersulut emosi.

Baca Juga :  Cara Memperkuat Fokus untuk Mencapai Tujuan Hidup: Detoks Dopamin Jadi Langkah Awal

Otak serta hormon pada anak berusia 5–17 tahun masih dalam fase berkembang sehingga impulsivitas dan sensitivitas emosinya meningkat.

Menurutnya, remaja adalah kelompok yang paling rentan terhadap efek negatif konten digital akibat proses perkembangan tersebut.

Dukungan terhadap Pembatasan Penggunaan Media Sosial

Menanggapi wacana pembatasan penggunaan media sosial untuk anak dan remaja seperti yang diterapkan Australia, Samanta menyatakan dukungannya.

Ia menilai kebijakan tersebut bisa membantu melindungi generasi muda dari paparan konten yang tidak sesuai usia.

“Di periode awal perkembangan, hormon dan otaknya pesat, sehingga mereka sangat rentan,” ujarnya.

Peran Orang Tua: Ajarkan Self-Control

Meski Indonesia belum menerapkan pembatasan usia secara ketat, Samanta menilai orang tua dapat melakukan langkah preventif.

Baca Juga :  Mental Breakdown: Penyebab, Ciri-Ciri, dan Cara Mengatasinya

Yang paling penting, kata dia, adalah mengajarkan self-control kepada anak-anak agar mereka mampu membatasi konsumsi konten secara mandiri.

Ia menyarankan batasan dua jam konsumsi konten per hari sebagai praktik self-control yang ideal.

Pentingnya Literasi Digital bagi Orang Tua

Selain mengajarkan kontrol diri, orang tua juga harus memahami literasi digital, termasuk cara algoritma bekerja.

Kebiasaan menonton satu jenis konten secara berulang akan memicu algoritma menampilkan konten serupa, sehingga perspektif anak menjadi sempit.

“Orang tua harus paham bagaimana algoritma bekerja agar bisa mengajari anak cara berinternet yang aman,” kata Samanta.

Samanta menegaskan bahwa kesehatan mental remaja adalah tanggung jawab bersama. Ia mendorong orang tua untuk aktif memahami dunia digital yang dihadapi anak-anak mereka dan menerapkan pendampingan yang konsisten. (BEM)

Baca Juga :  33,4% Balita Sudah Terbiasa Pakai Gawai, Wamendikdasmen Peringatkan Bahaya 'Brain Rot' pada Anak
BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI