Denpasar, Balienews.com – Ratusan truk sampah yang tergabung dalam Forum Komunikasi Swakelola Sampah Bali (Forkom SSB) menggelar aksi damai di kantor Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (PPLH) Bali Nusra, Kamis (16/4), sebagai protes atas pembatasan jenis sampah yang boleh masuk ke TPA Suwung sejak 1 April 2026.
Aksi yang melibatkan sekitar 400 truk ini dilakukan oleh para pengangkut sampah untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah daerah dan Kementerian Lingkungan Hidup. Mereka menilai kebijakan tersebut menyebabkan penumpukan sampah organik di berbagai titik pengelolaan.
Aksi Damai Tanpa Kericuhan
Kepala Satpol PP Bali, I Dewa Nyoman Rai Dharmadi, memastikan aksi berlangsung damai tanpa kericuhan.
Ia menyebut para peserta aksi telah berkomitmen menjaga ketertiban, termasuk menutup muatan truk untuk mencegah sampah tercecer di jalan.
“Pemerintah daerah juga siap menerima perwakilan mereka. Gubernur Bali sudah menerima perwakilan di dalam,” ujarnya di Denpasar.
Respons Pemerintah Daerah
Sejumlah pejabat daerah turut hadir untuk menerima aspirasi Forkom SSB, di antaranya Gubernur Bali Wayan Koster, Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, dan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, bersama jajaran PPLH Bali Nusra.
Sebanyak 10 perwakilan Forkom SSB diterima untuk melakukan audiensi guna menyampaikan keluhan secara langsung.
Dampak Pembatasan Sampah
Ketua Forkom SSB, I Wayan Suarta, menjelaskan kebijakan pembatasan sampah organik di TPA Suwung berdampak signifikan.
Selama lebih dari dua pekan terakhir, sampah organik menumpuk di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan TPS3R yang dikelola pemerintah daerah, karena truk tidak dapat membuang muatan mereka.
Menurutnya, para pengangkut sampah sebenarnya telah berupaya mematuhi aturan pemilahan. Namun, jika ditemukan sedikit saja sampah tercampur, seluruh muatan kerap ditolak.
Tuntutan Forkom SSB
Dalam aksi tersebut, Forkom SSB menyampaikan dua tuntutan utama:
- Meminta TPA Suwung tetap dibuka tanpa pembatasan, sembari proses revitalisasi dan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) terus berjalan.
- Memohon perhatian Presiden Prabowo Subianto untuk turun tangan menyelesaikan persoalan sampah di Bali.
Forkom juga mengancam akan melakukan mogok massal pengangkutan sampah jika tuntutan tidak dipenuhi.
Ancaman Krisis Sampah di Bali
Aksi ini menjadi sinyal serius potensi krisis pengelolaan sampah di Bali. Jika distribusi sampah terganggu, dampaknya bisa meluas ke lingkungan, kesehatan masyarakat, hingga sektor pariwisata.
Pemerintah daerah dan pusat kini diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan polemik ini sebelum berdampak lebih luas. Masyarakat juga diimbau terus disiplin memilah sampah dari sumbernya. (BEM)




