BerandaBeritaNasionalRupiah Melemah ke Rp17.304 per Dolar AS, Dipicu Konflik AS-Iran dan Lonjakan...

Rupiah Melemah ke Rp17.304 per Dolar AS, Dipicu Konflik AS-Iran dan Lonjakan Harga Minyak

Jakarta, Balienews.com – Nilai tukar rupiah melemah tajam sebesar 123 poin atau 0,72 persen menjadi Rp17.304 per dolar AS pada Kamis (23/4) (siang, pukul 13.32 WIB). Pelemahan ini dipicu oleh faktor eksternal berupa memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, serta faktor internal seperti lonjakan harga minyak dunia dan tekanan fiskal dalam negeri.

Rupiah Tertekan Konflik AS-Iran

Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terutama dipengaruhi oleh kegagalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang difasilitasi Pakistan.

Menurutnya, Iran menolak hadir dalam perundingan karena menilai AS melanggar kesepakatan gencatan senjata, termasuk penangkapan kapal tanker Iran di Selat Hormuz. Kondisi ini memperburuk ketegangan geopolitik di kawasan Asia Barat.

Iran bahkan disebut siap menghadapi konflik berkepanjangan, menyusul hilangnya kepercayaan terhadap Amerika Serikat.

Syarat AS Ditolak, Ketegangan Meningkat

Dalam upaya meredakan konflik, AS mengajukan sejumlah syarat, seperti penghentian pengayaan uranium dan pengelolaan Selat Hormuz tanpa tarif oleh Iran.

Namun, Iran menolak keras karena menganggap tuntutan tersebut melanggar kedaulatan negara. Penolakan ini memperbesar risiko konflik yang berdampak langsung pada pasar global, termasuk nilai tukar rupiah.

Harga Minyak Naik, Tekan APBN Indonesia

Dari sisi domestik, kenaikan harga minyak dunia turut menekan rupiah. Harga minyak Brent tercatat mencapai 103 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menyentuh 98 dolar AS per barel.

Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit anggaran Indonesia, mengingat kebutuhan impor minyak nasional mencapai 1,5 juta barel per hari dari total kebutuhan 2,1 juta barel per hari.

Selain itu, kapal tanker Pertamina dilaporkan masih tertahan di Selat Hormuz akibat konflik, yang berpotensi mengganggu pasokan energi nasional.

Subsidi BBM dan Utang Pemerintah Jadi Beban

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari kebijakan domestik, khususnya terkait subsidi BBM. Pemerintah dinilai masih menahan kenaikan harga BBM subsidi seperti Pertalite, sehingga beban subsidi meningkat.

Akibatnya, pemerintah harus mencari tambahan anggaran dari sektor lain, yang berpotensi memperlebar defisit fiskal.

Di sisi lain, utang pemerintah yang mendekati jatuh tempo juga menjadi faktor yang menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi.

IMF Ingatkan Pengurangan Subsidi

International Monetary Fund (IMF) sebelumnya telah mengingatkan Indonesia untuk mengurangi subsidi komoditas guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Dalam APBN 2026, asumsi harga minyak ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel dengan batas maksimal 92 dolar AS. Namun, realisasi harga yang jauh lebih tinggi membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar.

Target kurs rupiah dalam APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS kini telah terlampaui, dengan posisi terkini di kisaran Rp17.300 per dolar AS.

Proyeksi Rupiah Berpotensi Melemah Lagi

Ibrahim memproyeksikan pelemahan rupiah masih berlanjut dalam waktu dekat.

“Pada akhir April atau minggu depan, rupiah kemungkinan menembus Rp17.400 per dolar AS,” ujarnya.

Masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk mencermati perkembangan global dan kebijakan ekonomi pemerintah, mengingat fluktuasi nilai tukar berpotensi memengaruhi harga barang dan daya beli. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI