BerandaBeritaDaerahKasus DBD di Bali Tembus 1.167 Orang, Gianyar Jadi Wilayah Paling Rawan

Kasus DBD di Bali Tembus 1.167 Orang, Gianyar Jadi Wilayah Paling Rawan

Denpasar, Balienews.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Bali sepanjang awal 2026 masih menunjukkan tren mengkhawatirkan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali mencatat sebanyak 1.167 warga terinfeksi virus dengue hingga pertengahan Mei 2026, dengan dua kasus kematian dilaporkan terjadi di Kabupaten Buleleng dan Kota Denpasar. Kabupaten Gianyar kini menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi di Pulau Dewata.

Data tersebut disampaikan Dinkes Bali sebagai bentuk kewaspadaan terhadap potensi peningkatan penyebaran DBD akibat faktor cuaca dan tingginya populasi nyamuk Aedes aegypti. Pemerintah daerah pun memperkuat deteksi dini dan edukasi masyarakat untuk mencegah status Kejadian Luar Biasa (KLB).

Gianyar dan Badung Catat Kasus DBD Tertinggi

Berdasarkan peta sebaran kasus DBD di Bali, Kabupaten Gianyar menempati posisi pertama dengan 285 kasus. Kabupaten Badung berada di urutan kedua dengan 232 kasus.

Berikut rincian jumlah kasus DBD di Bali hingga pertengahan Mei 2026:

  • Gianyar: 285 kasus
  • Badung: 232 kasus
  • Karangasem: 148 kasus
  • Buleleng: 131 kasus
  • Denpasar: 119 kasus
  • Klungkung: 117 kasus
  • Bangli: 69 kasus
  • Tabanan: 57 kasus
  • Jembrana: 9 kasus

Tren kasus bulanan juga masih tergolong tinggi sejak awal tahun. Januari mencatat 281 kasus, Februari 277 kasus, Maret 246 kasus, dan kembali meningkat menjadi 264 kasus pada April 2026.

Dua Pasien DBD Meninggal Dunia

Dinkes Bali melaporkan dua korban meninggal dunia akibat DBD masing-masing berasal dari Kabupaten Buleleng dan Kota Denpasar.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan seluruh dinas kesehatan kabupaten/kota untuk memperkuat langkah deteksi dini guna mencegah lonjakan kasus lebih besar.

“Kami juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat terkait pengendalian dengue melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M-Plus secara berkesinambungan,” ujar Raka Susanti, Selasa (26/5/2026).

Dinkes Bali Perkuat PSN dan Fogging Selektif

Selain edukasi PSN 3M-Plus, Dinkes Bali juga mengintensifkan penyelidikan epidemiologi di wilayah yang mengalami peningkatan kasus.

Langkah fogging atau pengasapan massal disebut hanya dilakukan secara selektif apabila suatu wilayah memenuhi indikator epidemiologi yang berisiko tinggi terhadap penularan DBD.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk rutin menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Gandeng BMKG untuk Sistem Peringatan Dini DBD

Sebagai strategi jangka panjang, Dinkes Bali kini bekerja sama dengan Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengembangkan sistem peringatan dini berbasis cuaca.

Sistem tersebut dirancang untuk memproyeksikan potensi wabah DBD berdasarkan perubahan iklim dan curah hujan di Bali.

Selain itu, penanggulangan DBD juga melibatkan dukungan sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk “Bebas Nyamuk, Keluarga Sehat & Bebas Gerak”.

Program ini difokuskan pada tiga daerah dengan lonjakan kasus tertinggi, yakni Gianyar, Badung, dan Denpasar.

Masyarakat Diminta Waspada

Dinkes Bali mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap penyebaran DBD, terutama saat musim hujan dan perubahan cuaca ekstrem.

Warga diharapkan aktif menjalankan gerakan PSN 3M-Plus di lingkungan rumah masing-masing untuk memutus rantai penyebaran nyamuk penyebab DBD. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI