BerandaLingkunganLonjakan Sampah Sungai Bali Tembus 1 Ton per Bulan Usai Penutupan TPA...

Lonjakan Sampah Sungai Bali Tembus 1 Ton per Bulan Usai Penutupan TPA Suwung

Denpasar, Balienews.com – Penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung mulai memicu dampak serius terhadap lingkungan di Bali. Volume sampah anorganik yang terbawa aliran sungai dan tertangkap jaring penghalang (trash barrier) kini melonjak hingga lebih dari 1 ton per bulan di sejumlah titik.

Peningkatan ini terjadi sejak pembatasan akses ke TPA Suwung, terutama di wilayah Denpasar dan sekitarnya, akibat perubahan pola pembuangan sampah oleh masyarakat.

Lonjakan Volume Sampah di Sungai

Berdasarkan pantauan lapangan, rata-rata sampah yang tertangkap jaring sebelumnya berada di kisaran 800 kilogram per bulan. Namun kini, angka tersebut meningkat signifikan hingga melampaui 1.000 kilogram.

Bahkan, di beberapa titik seperti Kerobokan, jumlah sampah anorganik yang tertahan dalam satu jaring bisa mencapai 400–600 kilogram per bulan.

Manager Sungai Watch Facility Denpasar, Iqbal Rizali, menyebut peningkatan ini sebagai dampak langsung dari terbatasnya akses pembuangan sampah ke TPA. Kondisi ini memperparah pencemaran sungai dan meningkatkan risiko sampah berakhir di laut.

Baca Juga :  Kementerian LH Soroti Pengawasan Sampah di TPA Suwung

Kolaborasi BHA dan Sungai Watch

Kondisi tersebut mendorong intervensi dari sektor swasta dan organisasi lingkungan. Bali Hotels Association (BHA) kembali menggandeng Sungai Watch untuk memasang jaring penghalang sampah berukuran besar di kawasan Kerobokan.

Head of Sustainability BHA, Ankit Airon, mengatakan kolaborasi ini merupakan langkah nyata industri perhotelan dalam menjaga ekosistem Bali. Menurutnya, intervensi di hulu sungai sangat penting untuk mencegah sampah mencemari laut dan merusak citra pariwisata.

Ia menegaskan bahwa pemasangan jaring baru ini merupakan lanjutan dari program sebelumnya, sebagai bagian dari komitmen jangka panjang dalam pengelolaan lingkungan.

Sistem Pengelolaan Sampah Terintegrasi

Sampah yang tertangkap tidak hanya diangkut, tetapi juga dikelola melalui sistem terintegrasi. Tim Sungai Watch secara rutin mengevakuasi sampah setiap dua hingga tiga minggu, dengan volume sekitar 300–350 kilogram per pengangkutan.

Baca Juga :  Krisis Sampah Bali Usai TPA Suwung Ditutup, PSEL Jadi Solusi Jangka Panjang

Selanjutnya, sampah dibawa ke fasilitas pemrosesan di wilayah Tabanan untuk dipilah. Material plastik akan didaur ulang menjadi berbagai produk bernilai guna, seperti furnitur dan perlengkapan rumah tangga. Sementara itu, limbah yang tidak dapat didaur ulang akan dibuang sesuai standar lingkungan.

Tantangan Pasca Penutupan TPA

Meski upaya penanganan terus dilakukan, tantangan di lapangan masih besar. Saat ini terdapat sekitar 25 jaring penghalang yang tersebar di Denpasar dalam tiga tahun terakhir. Namun, tidak semua lokasi dapat dipasangi jaring karena kendala geografis dan penolakan warga.

Selain itu, keluhan masyarakat juga muncul akibat bau tidak sedap dari sampah organik yang tertahan di jaring, terutama bangkai hewan. Kondisi ini diperparah saat curah hujan tinggi yang meningkatkan volume sampah secara drastis.

Baca Juga :  Penutupan TPA Suwung Picu Warga Bakar Sampah

Iqbal menekankan pentingnya keberadaan jaring di hulu sungai. Tanpa intervensi tersebut, beban sampah di wilayah hilir akan meningkat tajam dan sulit dikendalikan.

Upaya Berkelanjutan dan Peran Masyarakat

Seluruh sampah yang dikumpulkan dari Kerobokan dan wilayah hilir kini diproses di fasilitas Denpasar sebelum didaur ulang. Kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan sektor swasta dinilai menjadi kunci dalam mengatasi krisis sampah di Bali.

Masyarakat juga diimbau untuk lebih bijak dalam mengelola sampah rumah tangga guna mengurangi beban lingkungan. Tanpa perubahan perilaku, lonjakan sampah dikhawatirkan akan terus meningkat. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI