Tabanan, Balienews.com – Jatiluwih Festival VII Tahun 2026 menjadi tonggak penting bagi Desa Wisata Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Untuk pertama kalinya, festival budaya dan tradisi pertanian yang digelar di kawasan Warisan Budaya Dunia UNESCO tersebut resmi masuk dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Pengakuan ini menjadi bukti bahwa budaya agraris Jatiluwih memiliki daya tarik nasional sekaligus berpotensi memperkuat pariwisata berkelanjutan di Bali.
Pembukaan festival berlangsung meriah dengan menampilkan berbagai atraksi budaya khas masyarakat Jatiluwih. Para tamu undangan disambut Tari Jatayu dan Tari Sri Jaton Linuwih, tarian maskot Desa Jatiluwih yang menggambarkan filosofi kehidupan masyarakat agraris serta kekayaan budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dihadiri Perwakilan Kementerian Pariwisata dan Pemprov Bali
Acara pembukaan dihadiri perwakilan Kementerian Pariwisata RI yang diwakili Direktur Poktekpar Bali serta Pemerintah Provinsi Bali yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali.
Kehadiran para pemangku kepentingan sektor pariwisata tersebut menegaskan pentingnya Jatiluwih Festival sebagai salah satu agenda budaya yang mendukung promosi destinasi wisata berbasis kearifan lokal.
Tradisi Pertanian dan Budaya Lokal Jadi Daya Tarik Utama
Berbagai atraksi budaya dan tradisi khas Jatiluwih ditampilkan sepanjang festival. Pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan Tebuk Lesung, Baleganjur, pembuatan Kapuakan, Pindekan, dan Lelakut yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat agraris setempat.
Selain itu, festival juga menghadirkan permainan tradisional anak-anak berupa pembuatan trompet kecil dari jerami atau empret-empretan. Aktivitas ini menjadi upaya memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda.
Nuansa khas pedesaan semakin terasa melalui prosesi nyuun padi dan negen padi, pementasan Costume Dewi Sri dan Jatayu, hingga kegiatan memanen padi atau manyi. Pengunjung juga disuguhkan pemandangan anak-anak bermain layang-layang di tengah hamparan sawah terasering Jatiluwih yang menjadi ikon wisata Bali.
Dorong Pelestarian Budaya dan Ekonomi Masyarakat
Ketua Panitia sekaligus Manajer Operasional DTW Jatiluwih, I Ketut Purna, mengatakan Jatiluwih Festival tidak hanya menjadi agenda hiburan, tetapi juga sarana pelestarian budaya, penguatan ekonomi masyarakat, dan promosi pariwisata berkelanjutan.
Menurutnya, masuknya Jatiluwih Festival ke dalam Karisma Event Nusantara merupakan kebanggaan bagi masyarakat Jatiluwih karena menjadi pengakuan atas nilai budaya dan tradisi pertanian yang dimiliki desa tersebut.
“Masuknya Jatiluwih Festival dalam Karisma Event Nusantara menjadi kebanggaan bagi masyarakat Jatiluwih. Ini menjadi pengakuan bahwa budaya dan tradisi pertanian yang dimiliki Jatiluwih memiliki daya tarik nasional dan layak untuk terus dilestarikan,” ujar I Ketut Purna.
Ia berharap festival ini mampu meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara serta memberikan dampak ekonomi yang lebih luas melalui keterlibatan UMKM, kelompok seni, dan masyarakat adat setempat.
Jatiluwih Perkuat Posisi Sebagai Destinasi Wisata Berkelanjutan
Masuknya Jatiluwih Festival ke dalam Karisma Event Nusantara menjadi momentum strategis untuk memperkuat posisi Desa Wisata Jatiluwih sebagai destinasi wisata budaya dan pertanian berkelanjutan di Indonesia.
Dukungan seluruh pihak diharapkan mampu menjaga kelestarian tradisi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui sektor pariwisata yang berkualitas. (BEM)



