Tabanan, Balienews.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan memanfaatkan area brandgang untuk mengembangkan peternakan ayam petelur sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan. Program yang telah berjalan sekitar delapan bulan ini menghasilkan rata-rata 90 butir telur per hari, sekaligus mendukung kebutuhan pangan internal Lapas.
Pelatihan Kemandirian Warga Binaan
Sebanyak 114 ekor ayam petelur kini dikelola secara rutin oleh Warga Binaan yang sebelumnya telah mendapat pelatihan. Meski dilakukan di lahan terbatas, peternakan tersebut mampu menghasilkan telur secara konsisten.
Hasil panen digunakan sebagai bahan baku kegiatan tata boga dalam program kegiatan kerja. Sebagian telur lainnya dipasarkan kepada petugas Lapas.
Kepala Lapas Tabanan Prawira Hadiwidjojo mengatakan keterbatasan sarana dan prasarana tidak menjadi alasan untuk berhenti berinovasi dalam memberikan pembinaan kepada Warga Binaan.
Menurutnya, peternakan ayam petelur tidak hanya memberikan keterampilan praktis, tetapi juga memiliki manfaat nyata dalam mendukung ketahanan pangan internal Lapas.
“Kami ingin setiap potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara optimal demi menciptakan pembinaan yang semakin berkualitas,” ujar Prawira.
Bekal Keterampilan Setelah Bebas
Salah seorang Warga Binaan yang terlibat, Made, mengatakan kegiatan tersebut memberinya pengalaman dalam merawat ayam petelur hingga menghasilkan telur berkualitas.
Keterampilan itu dinilainya dapat menjadi bekal setelah bebas, termasuk untuk memulai usaha peternakan dalam skala kecil di rumah.
Pemanfaatan area brandgang sebagai peternakan produktif menunjukkan upaya Lapas Tabanan menghadirkan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata dan berkelanjutan.
Program tersebut diharapkan terus mendukung kemandirian Warga Binaan sekaligus memperkuat ketahanan pangan di lingkungan Lapas. (BEM)



