Jembrana, Balienews.com – Taman Nasional Bali Barat (TNBB) membersihkan kawasan Hutan Cekik di Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, dari tanaman invasif jenis kerasi dan kerinyu untuk memulihkan ekosistem padang savana sekaligus mencegah meluasnya kebakaran hutan. Pembersihan dilakukan dengan membabat tanaman yang mendominasi kawasan tersebut, kemudian mengumpulkannya di sejumlah titik untuk dibakar secara terkendali.
Langkah ini dilakukan menjelang musim hujan agar lahan siap ditanami kembali dengan benih tumbuhan khas padang savana.
TNBB Pulihkan Habitat Asli Hutan Cekik
Kepala Seksi Wilayah I Taman Nasional Bali Barat, Isai Yusidarta, mengatakan ekosistem asli Hutan Cekik merupakan padang savana atau padang rumput. Namun, kawasan tersebut kini didominasi tanaman kerasi dan kerinyu yang bersifat invasif.
“Ekosistem asli Hutan Cekik adalah padang savana atau padang rumput. Namun saat ini kawasan hutan itu dikuasai tanaman jenis kerasi dan kerinyu yang invasif,” kata Isai kepada wartawan di Jembrana, Sabtu (24/10).
Pernyataan tersebut disampaikan untuk menanggapi isu yang viral di media sosial mengenai kebakaran di kawasan hutan Cekik, yang berada di wilayah Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya.
Menurut Isai, pembersihan tanaman invasif merupakan bagian dari upaya memulihkan habitat asli kawasan taman nasional. Setelah lahan dibersihkan, petugas berencana menebarkan benih tanaman padang savana ketika musim hujan tiba.
“Saat musim hujan benih padang savana akan kami tebar agar tumbuh dengan baik. Pembersihan memang sewajarnya dilakukan sekarang, sehingga saat musim hujan lahan sudah siap,” ujarnya.
Tanaman Invasif Berpotensi Mempercepat Penyebaran Api
Pelaksana Tugas Kepala Taman Nasional Bali Barat di Gilimanuk, Adang Bayu Pamungkas, membenarkan adanya kegiatan pembersihan lahan di kawasan Hutan Cekik.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mengembalikan ekosistem padang savana, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pengendalian dan pencegahan kebakaran hutan.
Menurut Adang, petugas sempat menemukan beberapa titik api yang diduga berasal dari aktivitas pencari madu. Petugas Manggala Agni TNBB kemudian melakukan pemadaman terhadap titik api tersebut.
Selain pemadaman, petugas juga melakukan penyekatan untuk mencegah api merambat ke area lain. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membersihkan tanaman kerasi dan kerinyu yang dinilai berpotensi mempercepat penyebaran api.
“Dua jenis tanaman itu berpotensi kuat menyebarkan api. Kami lakukan pembersihan sekaligus penyekatan untuk mencegah kebakaran meluas,” kata Adang.
Pemulihan Savana Dukung Fungsi Taman Nasional
Sebagai kawasan konservasi, Taman Nasional Bali Barat memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberadaan flora dan fauna beserta habitat alaminya, termasuk ekosistem padang savana di Hutan Cekik.
Pemulihan habitat tersebut diharapkan dapat mendukung fungsi taman nasional sebagai kawasan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, penelitian, serta kegiatan wisata dan pemanfaatan lainnya sesuai ketentuan konservasi.
Melalui pembersihan tanaman invasif dan penanaman kembali vegetasi khas savana, TNBB berupaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mengurangi risiko penyebaran kebakaran di kawasan tersebut.
Masyarakat diharapkan turut menjaga kelestarian hutan dengan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran serta melaporkan apabila menemukan titik api di kawasan hutan. (BEM)




