back to top
Kamis, Februari 26, 2026
- Advertisement -spot_img
BerandaBeritaDaerahSampah Plastik Kediri Tabanan Tembus Pasar Asia, Warga Raup Nilai Ekonomi

Sampah Plastik Kediri Tabanan Tembus Pasar Asia, Warga Raup Nilai Ekonomi

Tabanan, Balienews.com – Sampah anorganik yang sebelumnya dipandang sebagai limbah kini berubah menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi di Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali.

Melalui pengelolaan berbasis sumber oleh Bank Sampah Sedap Malam, sampah plastik hasil pilahan warga tidak hanya disalurkan ke berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga diekspor hingga pasar Asia sejak Oktober 2025.

Program ini melibatkan seluruh desa di Kecamatan Kediri yang diwajibkan menyalurkan sampah anorganik ke bank sampah yang berlokasi di Banjar Mengening, Desa Nyitdah.

Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut instruksi camat sekaligus implementasi Pergub Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber.

Cakupan Layanan Hampir Seluruh Desa

Ketua Bank Sampah Sedap Malam, I Ketut Nada, mengungkapkan bahwa layanan bank sampah kini telah menjangkau hampir seluruh desa di Kecamatan Kediri. Dari total 15 desa, hanya dua desa yang tidak mengirimkan sampah anorganik karena telah memiliki TPS3R mandiri.

“Setiap hari, volume sampah anorganik yang masuk bisa lebih dari satu ton,” ujar Ketut Nada, Selasa (16/12).

Berawal dari Kepedulian Saat Pandemi

Bank Sampah Sedap Malam resmi berdiri pada 2020, namun inisiatif pengelolaan sampah sudah dimulai sejak masa pandemi Covid-19 pada 2019. Saat itu, pengelolaan baru menjangkau lima desa.

Baca Juga :  HUT ke-532 Kota Singasana Dibuka Meriah dengan Fun Run dan Festival Kuliner

Nada mengaku tergerak karena minimnya realisasi visi pengelolaan sampah di tingkat desa. Ia kemudian membangun sistem pengelolaan sampah berbasis sumber dengan tujuan menekan residu hingga nol atau zero waste.

“Masyarakat kami biasakan memilah sampah dari rumah. Sampah organik ke lubang daur ulang, residu ke TPA Mandung, dan sampah anorganik ke bank sampah,” jelas warga Banjar Kebon tersebut.

Manfaatkan Lahan Pemda dan Dukungan BUMDes

Dalam operasionalnya, Bank Sampah Sedap Malam memanfaatkan lahan milik pemerintah daerah seluas 9,5 are. Sekitar 8 are digunakan untuk aktivitas bank sampah, sementara sisanya dimanfaatkan untuk ketahanan pangan dan Puskesdes.

Lahan yang sebelumnya berupa tanah kosong dan bangunan bekas pasar itu kini disulap menjadi pusat pengelolaan sampah anorganik dengan dukungan anggaran pihak ketiga serta penyertaan modal dari BUMDes.

Ratusan Ton Sampah Anorganik Diolah Setiap Tahun

Setiap banjar rata-rata menyumbang sekitar 500 kilogram sampah anorganik per bulan. Dalam setahun, bank sampah ini mampu mengelola sekitar 200 ton sampah anorganik dari enam desa. Seiring perluasan wilayah layanan menjadi 13 desa, volume tersebut diperkirakan terus meningkat.

Baca Juga :  Dinas Pendidikan Tabanan Segera Tutup Kekosongan Jabatan Kepala Sekolah

Warga Dapat Penghasilan dari Sampah

Selain berdampak positif bagi lingkungan, sistem ini juga memberikan nilai ekonomi langsung kepada masyarakat. Sampah anorganik yang telah dipilah dibeli dengan harga bervariasi, mulai dari Rp100 hingga Rp30 ribu per kilogram, tergantung jenis dan kualitasnya.

“Manajemennya bertingkat dan bersilang. Masyarakat dapat, kader dapat, BUMDes juga dapat,” tegas Nada.

Setiap setoran dicatat dalam buku tabungan dan dapat dicairkan oleh warga kapan saja.

Tembus Pasar Ekspor Hingga Asia

Saat ini, Bank Sampah Sedap Malam didukung empat unit kendaraan pengangkut serta 20 pengurus dan karyawan yang seluruhnya merupakan warga setempat.

Sampah anorganik yang terkumpul dipilah, dicuci, dicacah, dan dikeringkan sebelum dikirim sebagai bahan baku daur ulang.

Botol plastik jenis PET bahkan telah diekspor ke luar negeri, khususnya kawasan Asia, dengan kapasitas pengiriman mencapai 10 ton setiap tiga bulan. Sementara hasil cacahan lainnya dikirim ke pabrik daur ulang di Malang dan sejumlah wilayah di Jawa.

Baca Juga :  Kisruh Pemasangan Seng di Jatiluwih, Kunjungan Wisatawan Anjlok 80 Persen

Jenis sampah anorganik yang dikelola meliputi plastik, kertas, logam, busa, dan kaca. Khusus kaca, hasil pilahan dikirim ke pabrik daur ulang di Desa Nyitdah sebagai bahan baku industri cat.

Tantangan SDM dan Rencana Pengembangan 2026

Meski berkembang pesat, keterbatasan tenaga kerja dan sarana masih menjadi tantangan utama. Idealnya, operasional membutuhkan sekitar 50 tenaga kerja agar dapat berjalan setiap hari.

Saat ini, proses pencacahan sampah anorganik masih dilakukan seminggu sekali, meskipun kapasitas mesin cuci dan giling mencapai delapan ton per hari.

“Kami juga membuka kesempatan kerja, dengan gaji masa pelatihan Rp1,5 juta dan setelah menjadi karyawan rata-rata Rp2,1 juta per bulan,” ungkap lulusan SMK Teknologi Pengerjaan Logam tersebut.

Ke depan, pada 2026 Bank Sampah Sedap Malam ditargetkan memperoleh bantuan mesin pelet plastik dan mesin injeksi dari PLN.

Dengan tambahan fasilitas tersebut, pengelolaan sampah anorganik tidak hanya berhenti pada bahan baku, tetapi berkembang menjadi produk jadi seperti kerajinan (handicraft).

“Tata kelola ke depan, sampah langsung menjadi barang berguna,” pungkasnya. (BEM)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI