Buleleng, Balienews.com – Sebanyak 25 ekor babi milik warga di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, dilaporkan mati mendadak dalam sepekan terakhir. Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DKPP) Buleleng menduga kematian ternak tersebut disebabkan oleh serangan virus African Swine Fever (ASF).
Kasus kematian babi ini ditemukan di wilayah timur Buleleng dan mayoritas menyerang peternakan rumahan. Kepala DKPP Buleleng, I Gede Melandrat, mengatakan ASF menjadi ancaman serius bagi peternak karena hingga kini belum tersedia vaksin maupun antivirus yang efektif untuk mengobati ternak yang terinfeksi.
“Sudah ada temuan di wilayah timur, tetapi ini menjadi hal yang memang kami merasa prihatin. Sementara obat untuk ternaknya belum ada,” ujar Melandrat di Buleleng, Kamis (28/5).
ASF Belum Memiliki Vaksin
Menurut Melandrat, ASF berbeda dengan penyakit hewan lain seperti rabies maupun Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang telah memiliki vaksin pencegahan.
“Bahkan antivirusnya pun tidak ada. Beda dengan rabies atau PMK yang vaksinnya sudah ada,” katanya.
Ia menjelaskan, ASF dikenal sebagai penyakit yang sangat mematikan bagi ternak babi dengan tingkat penyebaran yang cepat.
Babi Mati Saat Mendekati Masa Panen
DKPP Buleleng mencatat babi yang mati rata-rata berusia sekitar enam bulan atau mendekati masa panen. Kondisi ini membuat kerugian peternak semakin besar.
“Sekitar 25 ekor mati. Langsung mati. Itu positif ASF,” ujar Melandrat.
Ia menyebut gejala ASF sulit dikenali karena ternak yang tampak sehat bisa mendadak mengalami penurunan kondisi hingga mati dalam waktu singkat.
“Kalau ciri-ciri, hari ini kondisinya bagus sekali, sebentar langsung drop,” katanya.
Sanitasi dan Pakan Diduga Jadi Pemicu Penyebaran
DKPP Buleleng menduga penyebaran ASF dipicu lemahnya sanitasi kandang dan aktivitas antarpeternak yang saling berkunjung saat ada ternak mati mendadak.
“Kalau satu orang peternak mati mendadak, terus ditengok lagi oleh tetangganya, maka ini akan menyebar terus. Sebarannya luar biasa,” kata Melandrat.
Selain itu, virus ASF juga diduga dapat menyebar melalui pakan ternak yang terkontaminasi.
Untuk mencegah penyebaran lebih luas, peternak diminta menjaga kebersihan kandang, membatasi orang yang masuk ke area peternakan, serta memastikan pakan ternak aman dan bersih.
“Pencegahannya hanya dengan menjaga sanitasi, kebersihan kandang, dan pakan. Kalau bisa pakannya dari lokal,” ujarnya.
DKPP Tingkatkan Edukasi ke Peternak
Saat ini DKPP Buleleng meningkatkan komunikasi, informasi, dan edukasi kepada peternak melalui dokter hewan serta petugas puskeswan di setiap kecamatan.
Peternak juga diimbau segera mengubur atau membakar bangkai babi yang mati mendadak agar virus ASF tidak semakin meluas.
“Di tingkat lapangan sekarang sudah tahu bahwa ini ASF dan segera harus dikubur atau dibakar,” kata Melandrat.
Pemerintah daerah berharap para peternak lebih disiplin menjaga sanitasi kandang untuk menekan penyebaran ASF di wilayah Buleleng dan sekitarnya. (BEM)




