Balienews.com – Gula darah tinggi atau hiperglikemia tidak selalu datang dengan tanda yang terasa jelas. Rasa haus yang terus muncul, lebih sering buang air kecil, tubuh mudah lelah, hingga luka yang tak kunjung sembuh bisa menjadi sinyal bahwa kadar gula dalam darah sedang berada di atas normal.
Kondisi ini dapat dialami siapa saja, tetapi lebih sering ditemukan pada penderita diabetes. Hiperglikemia juga perlu diwaspadai oleh orang dengan obesitas, hipertensi, kolesterol tinggi, riwayat stroke atau serangan jantung, PCOS, infeksi berat, maupun mereka yang memiliki keluarga dengan diabetes.
Jika berlangsung lama tanpa penanganan, gula darah tinggi dapat merusak berbagai organ, termasuk mata, saraf, ginjal, dan pembuluh darah. Karena itu, mengenali gejalanya sejak awal menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi.
Kapan Gula Darah Disebut Tinggi?
Menurut Alodokter, Hiperglikemia terjadi ketika jumlah glukosa dalam darah terlalu tinggi karena tubuh tidak menghasilkan cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif.
Secara umum, kadar gula darah puasa lebih dari 125 mg/dL atau kadar gula darah dua jam setelah makan lebih dari 180 mg/dL perlu mendapat perhatian dan evaluasi medis.
Menariknya, gejala hiperglikemia dapat berkembang secara perlahan selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Pada sebagian orang, keluhan bahkan baru terasa ketika kadar gula darah sudah sangat tinggi.
Itulah sebabnya, mengenali perubahan kecil pada tubuh menjadi penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko diabetes.
1. Terus-Menerus Merasa Haus
Salah satu tanda yang cukup sering muncul adalah rasa haus berlebihan meskipun sudah banyak minum.
Ketika kadar glukosa terlalu tinggi, ginjal bekerja lebih keras untuk menyaring kelebihan gula. Glukosa kemudian dikeluarkan melalui urine dan membawa lebih banyak cairan dari tubuh.
Akibatnya, tubuh kehilangan cairan dan memunculkan rasa haus sebagai mekanisme untuk menggantinya.
2. Lebih Sering Buang Air Kecil
Rasa haus biasanya berjalan beriringan dengan meningkatnya frekuensi buang air kecil.
Ketika kadar gula darah tinggi, ginjal berusaha membuang kelebihan glukosa melalui urine. Proses tersebut membuat jumlah urine meningkat.
Jika Anda belakangan lebih sering buang air kecil, terutama pada malam hari, dan kondisi tersebut disertai rasa haus yang tidak biasa, pemeriksaan gula darah dapat menjadi langkah yang patut dipertimbangkan.
3. Sakit Kepala dan Pusing
Sering buang air kecil dapat membuat tubuh kehilangan banyak cairan. Jika cairan yang hilang tidak segera digantikan, dehidrasi dapat terjadi.
Dehidrasi dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, mual, bahkan pingsan pada kondisi yang berat.
Karena itu, sakit kepala yang muncul bersamaan dengan rasa haus berlebihan dan sering buang air kecil sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai keluhan biasa.
4. Tubuh Mudah Lelah
Mengapa tubuh bisa terasa lemas padahal aktivitas tidak terlalu berat?
Ketika insulin tidak mencukupi atau tidak bekerja secara efektif, glukosa sulit digunakan oleh sel sebagai sumber energi. Akibatnya, tubuh dapat terasa lelah dan mengantuk.
Kelelahan juga dapat diperburuk oleh dehidrasi akibat terlalu sering buang air kecil.
5. Mudah Lapar
Rasa lapar yang datang terus-menerus juga dapat menjadi tanda gula darah tinggi.
Masalahnya bukan selalu karena tubuh kekurangan makanan, melainkan karena glukosa dalam darah tidak dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai energi oleh sel.
Akibatnya, tubuh seperti terus meminta asupan energi meskipun seseorang sudah makan.
6. Berat Badan Turun Tanpa Direncanakan
Penurunan berat badan yang terjadi tanpa diet atau perubahan aktivitas fisik patut diperhatikan.
Ketika tubuh tidak dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energi secara efektif, tubuh dapat menggunakan cadangan lemak sebagai bahan bakar.
Proses tersebut dapat menyebabkan berat badan berkurang. Jika penurunan berat badan terjadi tanpa sebab yang jelas, pemeriksaan medis diperlukan untuk mencari penyebabnya.
7. Penglihatan Menjadi Kabur
Perubahan kadar gula darah dapat memengaruhi lensa mata dan menyebabkan penglihatan menjadi kabur.
Dalam jangka panjang, kadar gula darah yang tinggi juga dapat merusak pembuluh darah serta saraf yang berperan dalam penglihatan.
Karena gangguan penglihatan memiliki banyak kemungkinan penyebab, keluhan yang menetap sebaiknya diperiksa oleh tenaga medis.
8. Lebih Sering Mengalami Infeksi Jamur
Kadar gula darah yang tinggi dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko infeksi, termasuk infeksi jamur.
Infeksi lebih mudah muncul pada area tubuh yang lembap atau sering berkeringat, seperti lipatan kulit, sela jari, telapak kaki, lipatan payudara, dan sekitar organ genital.
Pada perempuan, infeksi jamur vagina juga dapat menyebabkan keputihan yang tidak normal.
9. Kaki Kesemutan, Nyeri, atau Mati Rasa
Jika gula darah tinggi berlangsung dalam waktu lama, saraf dapat mengalami kerusakan. Kondisi ini dikenal sebagai neuropati diabetik.
Saraf pada kaki termasuk yang sering mengalami gangguan. Keluhannya dapat berupa kesemutan, rasa terbakar, nyeri, atau mati rasa.
Keluhan pada kaki perlu diperhatikan karena berkurangnya sensasi dapat membuat seseorang tidak menyadari adanya luka.
10. Luka Sulit Sembuh
Luka kecil yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh juga perlu diwaspadai, khususnya pada penderita diabetes.
Kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf dan pembuluh darah sehingga sirkulasi darah terganggu. Padahal, proses penyembuhan membutuhkan pasokan darah yang memadai.
Pada penderita diabetes, luka pada kaki yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Gejalanya?
Memiliki satu gejala saja tidak otomatis berarti seseorang mengalami diabetes atau hiperglikemia. Namun, jika beberapa gejala muncul bersamaan, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko, pemeriksaan gula darah dapat membantu mengetahui kondisi sebenarnya.
Dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan gula darah dan, bila diperlukan, pemeriksaan HbA1c untuk mengetahui gambaran rata-rata kadar gula darah dalam beberapa bulan terakhir.
Jika seseorang terdiagnosis diabetes, penanganan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Perubahan Gaya Hidup Bisa Menjadi Bagian dari Penanganan
Pengendalian gula darah tidak hanya bergantung pada obat. Pola hidup juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan diabetes.
Asupan makanan perlu diperhatikan dengan mengutamakan makanan bergizi seimbang, termasuk sayuran, buah, dan biji-bijian, serta membatasi makanan dan minuman dengan kandungan gula tambahan yang tinggi.
Aktivitas fisik secara rutin juga dapat membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai energi. Secara umum, orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas fisik intensitas sedang setidaknya 150 menit dalam seminggu, sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing.
Jika perubahan pola hidup belum cukup mengendalikan gula darah, dokter dapat memberikan obat diabetes. Pada kondisi tertentu, terapi insulin juga dapat diperlukan.
Jangan Menunggu Sampai Gejalanya Berat
Gula darah tinggi tidak selalu memberikan peringatan yang jelas. Justru karena gejalanya dapat muncul perlahan atau bahkan tidak terasa, pemeriksaan menjadi penting bagi orang yang memiliki faktor risiko.
Jika Anda mengalami rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, mudah lelah, berat badan turun tanpa sebab yang jelas, penglihatan kabur, atau luka yang sulit sembuh, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter dan melakukan pemeriksaan gula darah.
Semakin cepat kondisi diketahui, semakin cepat pula langkah pengelolaan dapat dilakukan untuk membantu menjaga kesehatan dalam jangka panjang. (BEM)




