BerandaGaya HidupBahaya Sharenting, Kebiasaan Unggah Foto Anak di Media Sosial

Bahaya Sharenting, Kebiasaan Unggah Foto Anak di Media Sosial

Tabanan, Balienews.com – Membagikan foto dan video anak di media sosial atau sharenting dapat menimbulkan risiko yang kerap tidak disadari orangtua. Mulai dari hilangnya kendali atas privasi, penyalahgunaan identitas, hingga potensi gangguan terhadap kepercayaan diri anak, jejak digital yang terbentuk sejak dini bisa berdampak hingga mereka dewasa.

Meski dilakukan untuk berbagi kebahagiaan, orangtua perlu mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan anak sebelum mengunggah foto atau cerita tentang kehidupan mereka ke ruang digital.

Mengenal Sharenting dan Risiko di Baliknya

Membagikan foto saat anak berulang tahun, mengunggah video tingkah lucunya, atau menceritakan pencapaiannya di media sosial telah menjadi kebiasaan banyak keluarga. Bagi orangtua, unggahan tersebut bisa menjadi cara untuk mengabadikan kenangan dan berbagi kebahagiaan dengan kerabat.

Namun, kebiasaan ini juga memiliki sisi lain. Istilah sharenting berasal dari gabungan kata sharing dan parenting, yang merujuk pada kebiasaan orangtua membagikan informasi, foto, atau video tentang anak melalui internet.

Menurut panduan American Academy of Pediatrics tentang sharenting, membagikan foto anak tidak selalu salah. Namun, orangtua perlu mempertimbangkan siapa yang dapat melihat konten tersebut, informasi apa yang terungkap, serta dampaknya terhadap kebutuhan dan privasi anak saat ini maupun di masa depan.

Persoalannya bukan hanya seberapa sering foto diunggah, tetapi juga apakah anak merasa nyaman, apakah informasi yang dibagikan terlalu pribadi, dan apakah konten tersebut berpotensi disalahgunakan.

1. Privasi Anak Bisa Terabaikan

Bayi dan balita belum memahami konsekuensi ketika foto atau video mereka dipublikasikan di internet. Mereka juga belum mampu memberikan persetujuan secara sadar mengenai informasi pribadi yang dibagikan kepada orang lain.

Karena itu, orangtua perlu berhati-hati ketika mengunggah foto anak yang sedang menangis, mengalami kejadian memalukan, berada dalam kondisi rentan, atau memperlihatkan bagian tubuh pribadi.

Perhatian serupa diperlukan ketika mengambil foto di sekolah, pesta ulang tahun, atau kegiatan keluarga. Foto yang menampilkan anak lain sebaiknya tidak diunggah secara terbuka tanpa mempertimbangkan izin dan privasi mereka.

Mengabadikan kenangan tetap bisa dilakukan tanpa harus menjadikan setiap momen sebagai konsumsi publik. Orangtua dapat menyimpan foto secara pribadi atau membagikannya melalui saluran terbatas kepada keluarga yang dipercaya.

2. Foto Anak Bisa Tersebar di Luar Kendali

Banyak orangtua menganggap unggahan di akun pribadi hanya akan dilihat oleh teman dan keluarga. Padahal, foto yang telah dibagikan dapat disalin, diambil tangkapan layarnya, atau diteruskan oleh orang lain.

Setelah konten menyebar, orangtua mungkin kesulitan mengetahui siapa saja yang menyimpan atau menggunakannya. Menghapus unggahan asli juga tidak otomatis menghilangkan salinan yang sudah dibuat orang lain.

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menambah tantangan dalam menjaga keamanan foto anak. Gambar yang semula tampak biasa dapat dimanipulasi atau digunakan kembali untuk tujuan yang merugikan.

Risiko lainnya berasal dari informasi yang tidak sengaja terlihat dalam foto, seperti seragam sekolah, lokasi rumah, papan nama jalan, atau rutinitas anak.

Sebelum mengunggah foto, orangtua sebaiknya memeriksa bukan hanya objek utama, tetapi juga latar belakang dan informasi lain yang dapat membantu orang asing mengenali identitas maupun lokasi anak.

3. Informasi Pribadi Berisiko Disalahgunakan

Nama lengkap, tanggal lahir, nama sekolah, dan informasi keluarga mungkin terlihat sepele jika dibagikan satu per satu. Namun, jika dikumpulkan dari berbagai unggahan, informasi tersebut dapat membentuk gambaran yang lebih lengkap mengenai identitas seorang anak.

Informasi tentang nama hewan peliharaan, tanggal penting, atau kebiasaan keluarga juga perlu dijaga. Dalam situasi tertentu, informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung penipuan atau upaya mengakses akun.

Paparan data pribadi secara berlebihan dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan identitas. Anak yang belum memahami keamanan digital juga belum tentu mengetahui bahwa informasi tentang dirinya telah tersebar luas.

Karena itu, hindari mengunggah dokumen pribadi, mencantumkan informasi identitas secara berlebihan, atau membagikan lokasi anak secara langsung ketika mereka sedang berada di suatu tempat.

4. Sharenting Bisa Memengaruhi Kepercayaan Anak

Ketika bertambah besar, anak mulai memiliki pandangan sendiri mengenai privasi dan bagaimana mereka ingin dikenal orang lain. Foto yang dianggap lucu oleh orangtua mungkin justru terasa memalukan bagi anak ketika dilihat teman-temannya.

Masalah dapat muncul ketika orangtua terus mengunggah konten meskipun anak sudah menunjukkan ketidaknyamanan. Anak bisa merasa pendapatnya tidak dihargai atau kehilangan kendali atas cerita tentang dirinya sendiri.

Panduan UNICEF mengenai cara memahami dan melindungi privasi anak dalam sharenting menekankan pentingnya melibatkan anak dalam keputusan berbagi konten tentang mereka. Kebiasaan ini juga menjadi kesempatan bagi orangtua untuk mengajarkan persetujuan dan menghormati privasi orang lain.

Untuk anak yang sudah mampu memahami situasi, tanyakan apakah mereka nyaman jika foto atau videonya diunggah. Jika mereka menolak, pertimbangkan untuk tidak memublikasikannya.

Menghargai pendapat anak dapat membantu membangun rasa percaya sekaligus mengajarkan bahwa setiap orang berhak menentukan bagaimana dirinya ditampilkan di ruang digital.

5. Dampak terhadap Psikologis Anak Perlu Diperhatikan

Dampak sharenting terhadap kesehatan mental tidak selalu muncul secara langsung dan tidak dialami semua anak dengan cara yang sama. Namun, cara anak ditampilkan di media sosial dapat memengaruhi pengalaman mereka dalam memahami identitas dan citra diri.

Anak yang terus-menerus ditampilkan sebagai sosok yang selalu berprestasi, ceria, atau berpenampilan menarik dapat merasa harus memenuhi gambaran tersebut. Kondisi ini patut diperhatikan apabila respons publik, seperti jumlah tanda suka dan komentar, menjadi ukuran kebanggaan orangtua.

Unggahan yang mempermalukan anak atau membuka persoalan pribadi mereka juga dapat menimbulkan rasa malu, terutama ketika konten dilihat teman sebaya.

Oleh karena itu, orangtua perlu memprioritaskan kenyamanan anak daripada mengejar popularitas unggahan. Pencapaian dan perkembangan mereka tetap dapat dirayakan tanpa harus selalu dipublikasikan kepada khalayak luas.

Cara Bijak Membagikan Foto Anak di Media Sosial

Melindungi anak di ruang digital tidak berarti orangtua harus berhenti menggunakan media sosial. Kebiasaan berbagi dapat dilakukan dengan lebih bijak melalui beberapa langkah sederhana.

Pertama, pikirkan kembali tujuan unggahan. Pertimbangkan apakah foto atau informasi tersebut memang perlu diketahui publik atau cukup disimpan sebagai kenangan keluarga.

Kedua, hindari membagikan foto yang memperlihatkan bagian tubuh pribadi, kondisi rentan, atau situasi yang berpotensi mempermalukan anak.

Ketiga, batasi akses akun dan pilih saluran berbagi yang lebih privat jika konten hanya ditujukan kepada keluarga. Meski demikian, perlu diingat bahwa foto yang dibagikan secara pribadi tetap berpotensi disalin atau diteruskan.

Keempat, jangan mencantumkan alamat rumah, informasi sekolah, atau jadwal rutin anak secara terbuka. Periksa pula latar belakang foto sebelum mengunggahnya.

Kelima, libatkan anak dalam keputusan berbagi ketika mereka sudah cukup memahami situasinya. Jika anak merasa tidak nyaman dengan unggahan tertentu, dengarkan pendapatnya dan pertimbangkan untuk menghapus atau membatasi akses terhadap konten tersebut.

Terakhir, tinjau kembali unggahan lama secara berkala. Hapus atau batasi akses terhadap konten yang terlalu pribadi, tidak lagi relevan, atau berpotensi merugikan anak.

Melindungi Anak Juga Berarti Menjaga Jejak Digitalnya

Media sosial dapat menjadi sarana untuk berbagi kebahagiaan dan menjaga hubungan dengan keluarga. Namun, setiap unggahan tentang anak juga membawa tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.

Anak tidak selalu memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana dirinya dikenal di ruang digital. Karena itu, orangtua perlu mempertimbangkan kepentingan dan kenyamanan anak sebelum membagikan foto atau cerita tentang mereka.

Sebelum menekan tombol unggah, luangkan waktu sejenak untuk bertanya: apakah anak akan tetap nyaman dengan foto ini ketika ia dewasa nanti?

Sebab, kenangan keluarga tidak harus selalu menjadi konsumsi publik. Terkadang, cara terbaik merayakan tumbuh kembang anak adalah menyimpan sebagian momen berharga itu untuk keluarga sendiri. (BEM)

Sumber rujukan:

  1. American Academy of Pediatrics — Sharing Photos and Videos of Children on Social Media (“Sharenting”). Baca sumber asli.
  2. UNICEF Parenting — What You Need to Know About “Sharenting”. Baca sumber asli.
BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

PILIHAN EDITOR

KOMENTAR TERKINI