Denpasar, Balienews.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) yang menembus level Rp18.000 memunculkan dampak beragam bagi sektor pariwisata Bali. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau Cok Ace, menilai pelemahan rupiah memberikan keuntungan bagi wisatawan mancanegara (wisman) karena daya beli mereka meningkat. Namun di sisi lain, kondisi tersebut justru membebani industri hotel dan restoran yang masih bergantung pada berbagai produk impor.
Pernyataan itu disampaikan Cok Ace di Denpasar, Jumat, 5 Juni 2026. Menurutnya, dampak penguatan dolar tidak bisa dilihat hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga harus mempertimbangkan situasi geopolitik global yang memengaruhi kenyamanan wisatawan untuk bepergian.
“Walaupun dolar naik, belum tentu juga wisatawannya nyaman untuk bepergian dalam situasi seperti sekarang. Kita lihat beberapa negara juga mengalami berbagai persoalan,” ujarnya.
Daya Beli Wisatawan Asing Meningkat
Dari sisi ekonomi pariwisata, melemahnya nilai tukar rupiah memberikan keuntungan bagi wisatawan asing yang berlibur ke Bali. Dengan nilai tukar yang lebih tinggi, wisatawan dapat memperoleh lebih banyak rupiah saat menukarkan mata uang mereka.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan belanja wisatawan selama berada di Pulau Dewata, mulai dari akomodasi, kuliner, hingga aktivitas wisata lainnya.
Meski demikian, Cok Ace mengingatkan bahwa keuntungan tersebut tetap harus diimbangi dengan potensi kenaikan biaya perjalanan internasional. Inflasi global dan kenaikan harga tiket pesawat dapat memengaruhi keputusan wisatawan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri.
“Secara ekonomi ini membantu wisatawan membelanjakan uangnya lebih banyak di Bali. Tetapi kita juga harus memperhitungkan kenaikan biaya perjalanan yang mereka tanggung,” katanya.
Kunjungan Wisman Masih Tumbuh
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, PHRI Bali mencatat kunjungan wisatawan mancanegara masih menunjukkan tren positif dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, sektor wisatawan domestik justru mengalami perlambatan. Masyarakat Indonesia dinilai lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya karena kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Menurut Cok Ace, tren peningkatan wisatawan asing menjadi kabar baik bagi Bali. Selain memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah, nilai tukar rupiah yang lebih rendah juga membuat destinasi wisata Bali terasa lebih terjangkau bagi turis internasional.
Hotel dan Restoran Terbebani Produk Impor
Jika wisatawan asing memperoleh keuntungan dari pelemahan rupiah, kondisi berbeda dirasakan para pelaku usaha perhotelan dan restoran.
PHRI Bali mengakui bahwa lonjakan dolar AS memberikan tekanan besar terhadap biaya operasional karena banyak kebutuhan industri yang masih bergantung pada produk impor.
Bahan baku makanan premium, termasuk daging impor untuk restoran, serta sejumlah perlengkapan operasional hotel masih dibeli menggunakan dolar AS. Sementara pendapatan usaha sebagian besar diterima dalam mata uang rupiah.
“Banyak produk impor yang masih kita gunakan, termasuk untuk kebutuhan restoran. Pembayarannya menggunakan dolar AS, sedangkan pemasukan yang kita terima dalam rupiah,” ungkap Cok Ace.
Biaya Operasional Dipastikan Naik
PHRI Bali memperkirakan penguatan dolar akan berdampak langsung pada kenaikan biaya operasional hotel dan restoran dalam waktu dekat.
Saat ditanya mengenai kemungkinan kenaikan biaya operasional, Cok Ace menegaskan bahwa kondisi tersebut hampir tidak bisa dihindari.
“Iya, pasti. Pasti malah menaikkan,” tegasnya.
Karena itu, pelaku industri pariwisata di Bali diminta melakukan berbagai langkah efisiensi dan penyesuaian strategi bisnis. Namun, upaya tersebut harus dilakukan tanpa mengurangi kualitas pelayanan yang menjadi daya tarik utama pariwisata Bali.
PHRI Minta Pelaku Usaha Tetap Jaga Kualitas
Menghadapi tantangan ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar, PHRI Bali mendorong pelaku usaha untuk lebih adaptif dalam mengelola biaya operasional.
Menurut Cok Ace, penyesuaian harga mungkin diperlukan, tetapi kualitas layanan harus tetap menjadi prioritas agar daya saing pariwisata Bali tidak menurun.
“Nah, ini menjadi tantangan bagi kita ke depan. Di satu sisi kita harus bisa menyesuaikan, tetapi di sisi lain kualitas harus tetap dijaga,” pungkasnya.
Dengan tren kunjungan wisatawan asing yang masih meningkat, pelaku industri berharap Bali tetap menjadi destinasi unggulan dunia meski menghadapi tekanan ekonomi akibat menguatnya dolar AS. (BEM)




