Bangli, Balienews.com – Panglipuran Festival ke-13 resmi digelar di Desa Wisata Panglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, dengan mengusung tema “Harmoni Bumi Panglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan, dan Regeneratif”. Festival yang dibuka pada Kamis ini menjadi wadah promosi pariwisata regeneratif yang menempatkan pelestarian adat, budaya, dan lingkungan sebagai fondasi utama pengembangan destinasi wisata berbasis masyarakat.
Bendesa Adat Panglipuran, Wayan Budiarta, menegaskan bahwa konsep pariwisata di Panglipuran sejak awal tidak dibangun semata untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Sebaliknya, pengelolaan desa wisata lahir dari komitmen masyarakat menjaga warisan leluhur berdasarkan filosofi Tri Hita Karana, sehingga identitas budaya tetap terpelihara di tengah meningkatnya kunjungan wisata.
Pariwisata Tumbuh Berkat Komitmen Masyarakat
Wayan Budiarta menjelaskan masyarakat Desa Adat Panglipuran secara konsisten mempertahankan tata ruang tradisional, rumah adat, hutan bambu, serta awig-awig atau hukum adat sebagai pedoman kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut justru menjadi daya tarik utama yang membuat Desa Wisata Panglipuran dikenal luas, tanpa harus mengubah karakter asli desa.
“Titik balik perkembangan Panglipuran terjadi pada 1993 saat pemerintah menetapkan desa ini sebagai objek wisata. Namun sejak awal masyarakat sepakat bahwa pariwisata harus mengikuti nilai-nilai adat yang telah ada, bukan sebaliknya,” ujarnya.
Warga Menjadi Pelaku Utama Pariwisata
Seiring perkembangan sektor pariwisata, konsep pengelolaan di Panglipuran kemudian bertransformasi menjadi community based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat.
Sejak 2012, warga tidak lagi diposisikan sebagai objek wisata, melainkan menjadi pelaku utama melalui penyediaan homestay, atraksi budaya, hingga layanan pemandu wisata.
Menurut Budiarta, wisatawan datang bukan sekadar menikmati panorama desa, tetapi merasakan langsung kehidupan masyarakat yang masih menjalankan adat, tradisi, dan ritual secara berkelanjutan.
“Pengunjung datang untuk merasakan kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Panglipuran bukan sekadar objek wisata, tetapi living museum yang tetap hidup dengan adat, ritual, dan budaya yang terus berjalan setiap hari,” katanya.
Raih Pengakuan Dunia
Komitmen menjaga keseimbangan antara budaya, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat telah mengantarkan Desa Wisata Panglipuran meraih berbagai penghargaan bergengsi.
Di antaranya Kalpataru, Indonesia Sustainable Tourism Award, masuk dalam daftar Top 100 Sustainable Destination, hingga dinobatkan sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik Dunia oleh UN Tourism pada 2023.
Budiarta menegaskan berbagai penghargaan tersebut bukan menjadi tujuan akhir, melainkan motivasi untuk terus mempertahankan kualitas pengelolaan desa wisata yang berkelanjutan.
Panglipuran Festival 2026 Hadirkan Konsep 4S
Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia mengusung konsep 4S, yaitu Something to Do, Something to See, Something to Buy, dan Something to Learn.
Konsep tersebut dirancang agar wisatawan memperoleh pengalaman yang lebih lengkap, tidak hanya menikmati atraksi wisata, tetapi juga belajar mengenai budaya, adat, dan kehidupan masyarakat Desa Panglipuran.
Berbagai agenda disiapkan dalam festival, mulai dari parade budaya, pertunjukan seni, perlombaan tradisional, pameran UMKM, hingga lomba gebogan yang melibatkan desa-desa Bebanuan sebagai bentuk pelestarian hubungan historis masyarakat adat Bali.
Selain menjadi sarana promosi pariwisata, Panglipuran Festival 2026 juga bertujuan melestarikan seni, budaya, adat, serta lingkungan, meningkatkan kompetensi pelaku pariwisata, sekaligus menjadi ungkapan syukur masyarakat atas manfaat yang diperoleh dari pengelolaan desa wisata.
Melalui festival ini, Desa Wisata Panglipuran ingin memperkenalkan konsep pariwisata regeneratif yang tidak hanya menjaga keberlanjutan destinasi, tetapi juga memulihkan lingkungan, memperkuat budaya lokal, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sebagai pelaku utama pariwisata.
Masyarakat maupun wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat konsep pariwisata berbasis budaya di Bali dapat menjadikan Panglipuran Festival 2026 sebagai salah satu agenda wisata yang layak dikunjungi. (BEM)



