Balienews.com – Federal Bureau of Investigation (FBI) Atlanta bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) berhasil membongkar jaringan phishing global canggih bernama “W3LL” setelah penyelidikan siber lintas negara selama beberapa tahun. Operasi ini dilakukan untuk menghentikan kejahatan siber yang menargetkan ribuan korban di seluruh dunia, dengan penangkapan tersangka dan penyitaan aset sebagai hasilnya.
Operasi Siber Internasional Pertama AS–Indonesia
Penyelidikan ini menjadi kerja sama siber pertama antara Amerika Serikat dan Indonesia yang secara khusus menargetkan pengembang perangkat phishing “W3LL”.
Kepala Agen Khusus FBI Atlanta, Marlo Graham, menegaskan bahwa kasus ini bukan sekadar phishing biasa, melainkan sebuah platform kejahatan siber yang terorganisir.
“Ini bukan sekadar phishing—ini adalah platform kejahatan siber yang lengkap. Kami akan terus bekerja sama dengan mitra global untuk melindungi masyarakat,” ujarnya.
Tersangka Diamankan, Aset Disita
Dalam operasi tersebut, Polri berhasil mengamankan tersangka pengembang berinisial G.L. Selain itu, aparat juga melakukan penggeledahan yang berujung pada penyitaan perangkat keras dan aset digital.
Barang bukti yang disita mencakup data ribuan target dari berbagai negara, yang memperkuat dugaan luasnya jaringan kejahatan ini.
W3LLSTORE: Pasar Gelap Peretas Global
Infrastruktur phishing ini didukung oleh marketplace daring bernama W3LLSTORE. Dalam periode 2019–2023, platform tersebut memfasilitasi penjualan lebih dari 25.000 akun yang diretas dan akses ilegal ke berbagai sistem.
Sementara itu, sepanjang 2023–2024 saja, perangkat phishing ini digunakan untuk menargetkan lebih dari 17.000 korban di hampir seluruh benua.
Kerugian Capai Rp350 Miliar
Secara global, pengembang W3LL diduga terlibat dalam pencurian ribuan kredensial akun dan upaya penipuan dengan nilai transaksi lebih dari 20 juta dolar AS atau sekitar Rp350 miliar.
Perwakilan FBI, Robert Lafferty, menyebut keberhasilan ini sebagai hasil koordinasi erat antara FBI Atlanta, Bareskrim Polri, dan Kepolisian Nusa Tenggara Timur.
“FBI memantau jejak digital dan aliran dana, sementara Polri melakukan operasi lapangan untuk mengungkap pelaku dan mengamankan bukti digital,” jelasnya.
Kolaborasi Global Perangi Kejahatan Siber
Keberhasilan ini menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam menghadapi ancaman kejahatan siber yang semakin kompleks dan lintas batas.
Ke depan, kerja sama antara aparat penegak hukum lintas negara diharapkan semakin diperkuat untuk melindungi masyarakat dari ancaman digital.
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap modus phishing dan selalu menjaga keamanan data pribadi saat beraktivitas di dunia digital. (BEM)




